Kolaborasi, Model Cara Bertani di Masa Depan - Beritabali.com

Ekbis

Kolaborasi, Model Cara Bertani di Masa Depan

Selasa, 30 Juni 2020 | 13:50 WITA

beritabali/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Bertani bukan sekedar bercocok tanam dan mendapatkan hasil panen, tetapi sebuah proses berkesinambungan mulai dari penyediaan bibit hingga pengemasan produk pertanian serta penjualan. Kolaborasi menjadi sebuah jawaban untuk mampu mewujudkan pertanian yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan petani. 
“Bertani gak bisa hanya di on farm. Kalau berkecimpung di pertanian harus menguasai dari hulu hingga hilir baru bisa berhasil. Banyak kasus berhasil menghasilkan produk bermutu namun gak berhasil menjualnya” kata Pembina Kelompok Sistem Pertanian terintegrasi (Simantri) 551 Angsoka Singaraja, Bali, Dr. I Gede Setiawan Adi Putra, SP., MSi., saat dikonfirmasi pada Senin (29/6) di Denpasar.
Menurutnya, pertanian diurus serius saja saat ini belum tentu berhasil, apalagi dilakukan secara asal-asalan. Memang dalam implementasi di lapangan beberapa petani memiliki pangsa pasar yang bagus dan punya kemampuan membudidayakan, tetapi mengalami kesulitan untuk mendapatkan sarana dan prasarana. Maka bertani tidak bisa dilakukan sendiri, karena membutuhkan sumberdaya orang lain. Model bertani yang saling membutuhkan ini disebut sebagai model kolaborasi dan sangat tepat untuk membangun pertanian Bali.
Kolaborasi menjadi penting ditengah peker
jaan bertani yang belum menjadi pekerjaan utama bagi masyarakat Bali. Bertani masih menjadi pekerjaan sampingan karena hasilnya dari bertani tidak menentu dan tidak dapat diprediksi.
 
”Hasilnya masih kurang sehingga banyak petani yang mencari pekerjaan lain, apakah jadi buruh bangunan, tukang. petani kecil ini perlu kolaborasi. lahan kecil diatur dalam satu perusahaan bisnis,” jelas suami dari Ni Made Ary Yunharmini, SE., MM.
Pria yang mengidolakan tokoh Albert Enstein ini mencontohkan saat pandemi Covid-19 kini banyak masyarakat Bali yang mencoba peruntungan di pertanian setelah terpaksa pulang kampung karena "dirumahkan". Saat ini toko-toko pertanian ramai didatangi para petani dadakan, hanya untuk mendapatkan benih, bibit, pupuk, dan obat-obatan. 
Kemungkinan karena keterpaksaan sudah tidak ada pekerjaan lain selain bertani. Banyak masyarakat yang dulunya jadi pegawai hotel atau pekerjaan yang berkaitan dengan pariwisata pulang kampung untuk menggarap tanah warisan yang masih tersisa untuk ditanami. 
Setiawan mengungkapkan bahwa dalam pikiran masyarakat awam menganggap pekerjaan bertani adalah pekerjaan yang paling mudah. Tinggal beli bibit kemudian menanam dengan selalu ingat menyiram, memupuk, pasti akan mendapatkan hasil.  
“Iya benar kalau hanya untuk bertahan hidup. Kalau berpikir hanya untuk tanam sayur, kangkung, bayam , terung untuk dipetik pakai sayur untuk menyambung hidup di masa pandemi ini. Mereka tidak tahu bahwa bertani di jaman kekinian tidaklah mudah apalagi ingin menjadikan pertanian sebagai penghidupan,” papar lelaki kelahiran Singaraja, 14 September 1978 tersebut.
Ia menegaskan petani Bali harus berkorporasi menjadi perusahaan tani. Semestinya ada perusahaan beras merah Tabanan, perusahaan popcorn Seraya, perusahaan pertanian rumput laut Nusa Penida dan lain sebagainya. Guna mewujudkan hal tersebut, Bali membutuhkan anak muda generasi petani yang cerdas dan melek teknologi. 
“Perlu kreativitas dalam bertani. Dana desa semestinya dipakai membangun perusahaan pertanian khususnya produk yang spesifik lokasi. Jika segala daya upaya difokuskan membangun perusahaan tersebut maka pasti pertanian Bali akan maju,” ungkap pria berzodiak Virgo tersebut.
Kedepan kata Setiawan, pengemasan dan pemasaran hasil pertanian tidak lagi dilakukan oleh petani. Dalam wadah kolaborasi pengemasan hasil pertanian menjadi tugas lembaga pemasaran yang khusus berada di masing masing lokasi unggulan. Contoh di Bedugul sebagai penghasil sayur, petani menyerahkan sepenuhnya kepada lembaga pemasaran, lalu lembaga ini yang melakukan sortasi dan pengemasan. Informasi pasar semestinya juga disampaikan kepada petani agar tidak terjadi over produksi. Dengan sentuhan teknologi tentu dapat diperkirakan waktu tanam dan waktu panen.
Kenyataannya yang terjadi saat ini lembaga pemasaran dikelola individu sehingga sering mencekek dan menjerat petani. Petani menanam tiga bulan, kemudian lokal agent (pengepul) bekerja sehari tapi keuntungan lebih banyak diterima pengepul. 
“Sangat tidak adil. kalau saja pemerintah bisa hadir dalam kondisi ini, mengambil alih peran tengkulak maka akan lebih baik.  Rekrut orang- orang yang ahli di bidangnya untuk membantu menyediakan sistemnya,” jelas pria yang memiliki moto hidup “kerjakan kewajibanmu, urusan hasil sudah ada yang mengaturnya".
Manajer Operasional Islands Organic Bali Ramadhani Yudha Prasetya mengakui perlu waktu panjang dan kerja keras untuk membangun jejaring kerjasama guna memasarkan produk pertanian. Apalagi untuk memasarkan dan mendekatkan produk pertanian organik hingga dekat dengan konsumen. 
Ramadani memasarkan produk pertanian organic dengan melakukan kerjasama dengan juru masak internasional yang bekerja di di hotel dan restoran berbintang. Kendati produk pertanian dapat diterima dengan baik, tetapi pembayaran yang cukup lama sehingga menyulitkan bagi petani. 
“Yang kami hadapi dalam menyalurkan produk petani ke hotel ya pembayaranya di belakang hingga 3 bulan, ini sangat menyulitkan dalam menjaga keberlanjutan usaha tani yang dikelola petani kecil sebagai mitra kami,” ujarnya.
  Dalam menjaga eksistensi di bisnis pertanian, Ramadani selalu berusaha untuk menampilkan produk pertanian yang baru dan selalu berusaha membuka pasar baru. Salah satu produk pertanian baru yang sedang dipasarkan dan ditawarkan adalah buncis berwarna unggu yang berbeda dengan yang ada di pasaran.
Guru Besar FP unud Prof. Dr. Ir. Made Antara, MS memaparkan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, selama sepuluh tahun (2003-2013) menunjukkan jumlah rumah tangga (RT) usaha pertanian menurun sebesar 17,09% dari 492.394 RT tahun 2003 menjadi 408.233 RT tahun 2013. Pengusaha Lahan menurun sebesar 16,69% dari 485.531 RT tahun 2003 menjadi 404.507 RT tahun 2013.  
Penurunan juga terjadi pada rumah tangga usaha pertanian Gurem mencapai 17,86% dari 313.111 RT tahun 2003 menjadi 257.181 RT tahun 2013. Fakta ini mengindikasikan bahwa pertanian di Bali semakin tidak menarik dan banyak ditinggalkan oleh generasi muda berpindah ke sektor pariwisata, sedangkan para orang tuanya tidak mampu lagi bekerja sebagai petani. Akibatnya pertanian di Bali semakin melemah, bukan semakin kuat.
Anak-anak petani dan buruh tani di desa semuanya menghindari bekerja di pertanian karena pertanian kita masih memiliki stigma kerja keras, kotor dan miskin. “Kapan pertanian di Indonesia dan Bali bisa maju seperti pertanian di Israel, maka pada saat itu baru pekerjaan sebagai pengusaha tani akan dilirik oleh generasi milenial” jelas Antara.   
Antara menegaskan pertanian di Bali dapat dikatakan belum kuat dan bahkan ada beberapa lemah. Para petani di Bali saat ini berumur di atas 60 tahun,  teknologi yang diterapkan juga belum maju, lahan garapan sempit kurang dari 0,5 ha, dan generasi milenial kurang berminat menjadi pengusaha tani. 
Kadis Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Ir. Ida Bagus Wisnuardhana, M,Si. Menyebutkan bahwa tantangan pembangunan pertanian di Bali sangat klasik. Mulai dari alih fungsi lahan, keterbatasan modal dan ketatnya persaingan pasar. 
“Alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian, rata-rata alih fungsi lahan sawah dalam setahun mencapai 400 Ha, hal ini tentu berpengaruh terhadap penurunan luas tanam, panen dan produksi” jelas Wisnuardhana
Ia mengungkapkan permasalahan lainnya adalah gangguan hama atau penyakit dan kerusakan tanaman karena dampak perubahan iklim. Selain itu terbatasnya pasar khususnya ke hotel, restoran, catering, swalayan bahkan pasar umum.
Wisnuardhana menyebutkan peran sektor pertanian untuk pertumbuhan perekonomian Bali masih cukup tinggi. Terbukti sumbangannya terhadap pembentukan PDRB Bali 14,7%, tertinggi kedua setelah sektor jasa. Potensi pertanian Bali pun masih cukup luas, meliputi pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan. Luas sawah di Bali tercatat 79.526 Ha (14,4% dari luas Bali) yang meliputi 1.603 Subak Sawah dan luas lahan pertanian bukan sawah tercatat 238.605 Ha yang meliputi 1.118 Subak Abian.  

Penulis : I Nengah Muliarta

Editor : I Komang Robby Patria


TAGS : Kolaborasi Pertanian


The Best Cargo Company in Bali | Air and Sea Shipping in Bali

We are Your Experienced and Reliable Freight Forwarding Partner in Bali. Bali Cargo, Bali Freight Forwarder, Bali Shipping. Worldwide Cargo Logistics and Freight Forwarder in Bali, Air Freight Services, Sea Freight Services. Contact us Today 0811388874



Ekbis Lainnya :


Berita Lainnya

Trending Ekbis

Berita Bali TV